Modal 5 Juta, C59 Kini Melanglang ke Eropa

Marius Widyarto, Kang WiwiedSiapa tak kenal dengan kaos merek C59. Kaos yang melegenda dengan ikon, tulisan, serta gambar lucu buatan asli orang Bandung tersebut ternyata modal awalnya cuma Rp5 Juta. C59 sendiri diambil dari alamat rumah yaitu Jalan Caladi nomor 59 Bandung, tempat di mana pertama kali usaha tersebut lahir.

Pada 1980 nampaknya tahun yang bersejarah untuk Marius Widyarto atau yang biasa disapa Kang Wiwied. Uang kado pernikahannya, yang kala itu sekira Rp5 juta, dibelikannya satu mesin jahit dan dua mesin obras sebagai modal usaha.

“Ya kalau sekarang besaran nominal, jaman dahulu di 1980-an mungkin sebesar Rp5 jutaan,” ungkapnya saat berbincang dengan okezone beberapa waktu lalu.

Awalnya, dalam membangun usaha tersebut, dirinya hanya mengandalkan jaringan yang dimilikinya. Yaitu dari teman-teman dekatnya yang mempunyai komunitas hobi seperti motor, terjun payung, off road, dan lain sebagainya. “Saya punya teman banyak, komunitas motor, terjun payung, dan off road. Itu yang menjadi network pemesanan kaos,” bebernya.

Usaha tersebut dimulai dengan istri tercintanya Maria Goreti dan satu orang pembantu. Kala itu dirinya berpikir, bagaimana membuat sesuatu yang berbeda dari yang lain. Di mana pada tahun-tahun tersebut bisnis sablon kaos juga sudah marak.

“Dulu sudah ada pesaing, tapi bagaimana saya mendesain t-shirt dengan desain yang aneh. Waktu itu sablonan kalau di cuci hilang. Akhirnya saya menciptakan bagaimana sablonan ini tidak hilang yaitu dengan sablon karet. Di situlah mulai booming,” jelasnya.

Selain keunikan dari jenis sablon yang tidak mudah hilang tersebut, laki-laki yang memiliki kreatifitas tinggi ini juga menyatakan jika hal lain yang unik dari kaosnya adalah tidak adanya bagian sambungan di bagian sisi kiri maupun kanan kaosnya. Hal itulah yang juga menjadi salah satu uniqe selling poin dalam bisnisnya.

“Seperti misalnya, kaos tidak ada bagian sambungan, di bagian kanan dan kiri ini tidak ada sambungan. Itu yang menjadi salah satu unique selling point dari saya, meski ini berawal di gang sempit. Memang bukan saya yang pertama, tapi produk ini banyaknya di luar negeri,” terangnya.

Sebelum sesukses sekarang, bisnis kaos tersebut hanya melayani kaos bergambar yang pada saat itu teknik pengerjaannya masih sangat sederhana, yakni hanya menggunakan komputer. Baru pada 1985, C59 mulai menunjukkan keunggulan dari segi bahan, jenis sablon, dan teknik pisah warna yang pada masa itu produknya terkenal di Bandung dan Jakarta.

Diceritakannya pula, dalam memulai sebuah bisnis kaos tidaklah harus punya banyak modal, pintar membuat sablon. Yang terpenting adalah kita berani mengeluarkan ide kreatif yang kita punya. Dari awalnya hanya ngobrol santai dengan kawan, jika kita kreatif maka bisa menjadi ide dalam membuat sebuah desain kaos.

Dicontohkannya, saat masa sekolah dulu, dirinya memperoleh ide dalam membuat sebuah kaso dari hasil obrolan santai dngan temannya. Sehingga, dirinya yang mempunyai ide, untuk modal diserahkannya kepada teman yang orang tuanya mempunyai usaha kaos.

“Dulu pas sekolah, ide nakal, cerdas, simpel. Kata-kata selalu ada. Ide kreatif bisa berasal dari mana saja, celetukan. Karena saya punya ide. Saya tidak bisa meggambar, manfaatkan teman yang bisa gambar, tidak punya punya uang manfaatkan teman yang orangtuanya punya pabrik kaos,” jelasnya lagi.

Saat ini, usaha yang telah mempekerjakan 559 ribu karyawan tersebut sudah semakin jauh berbeda dengan masa di awal 1980-an silam. Pada 1990, C59 semakin berkembang dengan membangun pabrik dan fasilitas modern bersamaan dengan dibangunnya toko retail (showroom) yang pertama di Jalan Tikukur nomor 10.

Dirinya enggan memberikan detail berapa besaran omzet per bulan yang masuk ke kantongnya. Dirinya hanya mampu menjelaskan jika saat ini C59 sudah bisa menghidupi 559 orang karyawan yang di awal hanya terdapat tiga orang pekerja termasuk dirinya dan istrinya.

“Masalah pendapatan, sekarang yang jelas saya bisa menghidupi 559 orang karyawan saya. Saya tidak bisa berbicara tentang omzet. Untuk jumlah produksi saya juga tidak bisa memberikan secara besaran angka. Ya kira-kira per bulan 59 ribu pieces. Untuk harga per pieces, kira-kira Rp59 ribu, hitung saja,” terangnya sambil berkelakar.

Dengan keuntungan yang sudah berkali lipat dari awalnya terdahulu, sejak 1990-an dirinya telah mendaftarkan merek tersebut untuk melindungi dari maraknya barang tiruan. “Hak paten sudah sejak 1990-an. Di mana tahun itu C59 sudah menjadi Perseroan Terbatas (PT). C59 dengan segala turunannya sudah saya patenkan,” bebernya.

Memang, sejak periode 1993-1994, C59 sudah berdiri secara sah sebagai perusahaan berbentuk Perseroan terbatas dengan Marius Widyarto Wiwied sebagai direktur utamanya.

Sementara itu, seiring dengan perkembangan jaman, pada 2000 silam, di usia yang ke-20, C59 mulai memasarkan produknya ke Eropa Tengah seperti Ceko, Slovakia, dan Jerman. Saat ini, C59 juga terus melakukan ekspansi ke beberapa kota di Indonesia, dengan mendirikan toko sendiri dan menjalin kerja sama dengan Ramayana Departement Store sebagai saluran distribusi yaitu Jakarta, Balikpapan, Yogyakarta, Ujung Pandang, Lampung, dan Malang.

Sementara untuk menggelar pasar nasional, C59 menjalin kerja sama dengan PT Matahari Departement Store. Konsep dan varian produknya juga berubah dari “Basic t’shirt” (Kaos Oblong) menjadi “Fahion Apparel” dengan segmentasi kalangan remaja usia 14-24 tahun.

Sumber : http://economy.okezone.com

0 Responses to “Modal 5 Juta, C59 Kini Melanglang ke Eropa”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s





%d bloggers like this: